PENGAMBILAN PARA PERANTARA TERCELA DALAM AL QUR’AN

Allah bertanya pertanyaan: Bahkan adakah mereka mengambil para perantara selain dari pada Allah? Kemudian Allah sendiri menjawab Katakanlah: Pada hal mereka tidak mempunyai suatu apapun dan tidak pula berakal?

Bismillahirrahmanirraheem

Di dalam al Qur’an, pengambilan perantara tercela bersama jenis-jenis kemusyrikan yang lain:

Bahkan adakah mereka mengambil para perantara selain dari pada Allah? Katakanlah: Pada hal mereka tidak mempunyai suatu apapun dan tidak pula berakal? [Az Zumar 43].

Ayat yang ada diatas mengandung pertanyaan dan jawabannya. Bukti bahwa pengambilan perantara itu tercela, dan bukan sesuatu yang terpuji, ada di jawaban. Kalaulah ia terpuji, akan jawaban itu menunjukkunnya.

Akan tetapi, Allah bertanya pertanyaan rhetorika: Bahkan adakah mereka mengambil para perantara selain dari pada Allah? Kemudian Allah sendiri menjawab Katakanlah: Pada hal mereka tidak mempunyai suatu apapun dan tidak pula berakal?

Ini berarti [Dapatkan mereka memberi syafa’at] pada hal mereka tidak mempunyai suatu apapun dan tidak pula berakal? Jawaban ini menunjukkan kegagalan mengambil para perantara. Alasan gagal adalah karena 1) mereka tidak mampu, dan 2) mereka tidak memahami.

Ini sudah jelas dari bacaan ayat ini dari surah Az Zumar. Namun, ia dijelaskan lagi ketika dipandang dalam konteks ayat-ayat al Qur’an yang lain yang pembentukannya mirip dengan ayat yang telah dibahas diatas.

Berikut ini adalah tiga kali lagi di dalam al Qur’an yang mana sesuatu hal yang tercela disusun dengan tutur bahasa yang sama:

Bahkan, adakah mereka mengangkat beberapa Tuhan dari bumi, yang dapat menghidupkan? Kalau sekiranya ada beberapa Tuhan di langit dan bumi, selain Allah, niscaya binasalah keduanya. Maka Mahasuci Allah, Tuhan ‘arsy, dari apa-apa yang mereka sifatkan.

Disini, halnya adalah menuhankan, bukan mengambil perantara, hanyalah beda jenis kemusyrikan. Dan di kasus yang ini, jawaban tetap negatif. Seperti dalam kasus pengambilan perantara, disini jawaban menunjukkan sesuatu yang Allah tidak membenarkan.

Bahkan, adakah mereka mengangkat beberapa Tuhan, selain dari padaNya? Katakanlah: Unjukkanlah dalilmu. Ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku dan orang-orang yang sebelumku. Tetapi kebanyakan mereka tiada mengetahui kebeneran, sedang mereka berpaling.

Di surat Al Anbiya, setelah beberapa ayat saja, terdapat tutur bahasa ini yang sama. Benar dua kali dalam surat al Qur’an yang mulia: surat Al Anbiya yang mendidik kita tentang keagamaan nabi-nabi.

Sekali lagi ayat-ayat membahas tentang masalah menuhankan dan sekali lagi jawabannya negatif dan merupakan celaan dari Allah. Dan yang baik adalah bahwa kita mengikuti pemahaman yang sesuai dengan apa yang diutarakan Al Qur’an Al Karim.

Bukankah kita beriman kepada segala apa yang didatangkan Al Qur’an?

Terus, kita melihat dan fikir tentang ayat al Qur’an lain yang sejenis:

Bahkan, adakah mereka ambil wali-wali selain dari padaNya? Pada hal Allah yang menjadi wali dan Dialah yang menghidupkan orang-orang yang mati, dan Dia Mahakuasa atas tiap-tiap sesuatu.

Di dalam surat Al Shuura, tutur bahasa yang ini dipakai sekali lagi untuk mencela pengambilan wali-wali sebagai pelindung-pelindung. Seperti kasus-kasus yang diatas, Allah menunjukkan penolakanNya melalui pertanyaan dan jawaban.

Dengan keterangan yang ini, kita bisa menyempurnakan ilmu tentang keesaan Allah: ilmu tauhid. Semakin bagus ilmu kita terhadap Allah, ya, semakin bagus ma’rifatullah, semakin baik kita bisa menyembahNya.

Allah telah memerintakan kita untuk berilmu dengan ilmu tauhid. Benar-benar ini adalah kewajiban kita, karena kita diseru oleh Allah dalam kitab suciNya: Fa’lam an laa ilaha illallah! Artinya ketahuilah bahwa tiada tuhan selain Allah.

Perkataan ini merupakan perintah. Perintah berilmu. Agar tahu, kita harus pelajar. Bukankah rasulullah mendidik tentang keesaan Allah? Bahkan setiap nabi dan rasul?

Benar! Setiap nabi dan rasul datang untuk menyeru manusia kepada ibadah yang sah, yaitu ibadah yang ikhlas kepada Allah dan hanya kepada Allah saja. Mereka ditugas juga untuk mengantar dan mendidik ilmu tentang Allah kepada manusia, yaitu ilmu tauhid.

Di masa ini, kita telah dianugerahkan Al Qur’an. Kita tidak harus mengikuti keliru-keliru manusia lagi, seperti yang terjadi antara Ahli Kitab. Ulama mereka menyimpang dari ajaran yang benar. Tentu saja, Al Qur’an datang untuk menyoalkan hal itu.

Al Qur’an datang sebagai pembeda. Ia memisahkan antara yang benar dan yang tidak, yaitu antara haq dan batil. Alhamdulillah. Dengan al Qur’an kita bisa memperoleh pahaman yang benar tanpa keraguan.

 

Kitab itu tidak ada keraguan padanya, jadi petunjuk pada bagi orang-orang yang taqwa.

Alhamdulillahirrobil’aalamiin. Maha Suci Allah yang telah menganugerahkan kita dengan kitab suci yang terjaga!

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s